Hadiah
untuk adik-adikku tersayang..
Apa
kabar para pejuang? Semoga Allah yang senantiasa menjadi tujuan.. ^_^
Obrolan
kita malam ini yang mengharuskanku menuliskan semua ini untuk kalian, untuk kalian
yang kusayangi karena Allah, untuk kalian yang senantiasa membakar semangat
baruku. Sejenak, izinkanlah kakakmu yang faqir lagi dho’if mengungkapkan
sayangnya pada kalian lewat serangkaian kalimat yang penuh kecerewetan ini. Hadiah
untukmu sayang, semoga bermanfaat.
Iqra’bismi rabbikal ladzii khalaq..
KARENA CINTA YANG MENSUKSESKANKU
Menengok judulnya, semoga membuat
kalian tertarik untuk membaca isinya.. J ada dua kata
kunci disana, yaitu ‘cinta’ dan ‘sukses’. Kita akan mengupas satu per satu,
agar tidak ada dusta diantara kita..hehe.. langsung saja ya..
Kata kunci pertama adalah ‘cinta’. Hemm..bahasan
cinta memang selalu menarik bagi siapa saja, tua, muda, remaja maupun dewasa. Yang
katanya hidup tanpa cinta bagai taman tak
berbunga. Namun, ada sedikit sedih dalam hati ini ketika cinta telah
mengalami penyempitan makna. Penyempitan makna? Kok bisa? Iya, padahal cinta
itu luas sekali kan? Ada cinta pada Allah yang membuat kita rela menghamba. Ada
cinta pada Rasulullah yang membuat bibir kita selalu menyebut nama beliau
seraya berharap agar bisa berdampingan dengan beliau di Surga kelak. Ada cinta
ibu-bapak yang menuntut kita menjadi yang paling membanggakan bagi keduanya,
dan masih banyak cinta cinta yang lainnya. Tapi sayang, ketika disebutkan kata
cinta, mengapa yang terfikir justru ‘si dia’? Mengapa cinta hanya dikaitkan dengan
relasi lawan jenis? Ini penyempitan makna.
Well,
karena cinta yang kalian suka adalah cinta yang berhubungan dengan ‘si dia’,
kita bahas yang ini saja kalo gitu. Setuju? (udah pasti setuju kan..?) J
Adikku sayang, cinta itu fitrah,
sayang. Sudah menjadi sesuatu yang pasti kita rasakan. Akan tetapi cinta tidak
lagi menjadi fitrah (suci) kalau salah dalam mengaturnya. Lalu, apa karena
cinta yang kemudian membuatmu menjalin hubungan yang Allah larang (pacaran,
red)? Hey, itu nafsu syetan, bukan cinta.
Cinta itu menentramkan kita yang
merasakan. Kalau dengan pacaran, yakinkah tak dirundung kegalauan yang
menyesakkan? Yakinkah tak diselimuti kecemasan karena takut kehilangan ‘dia’?
lalu bagian mana yang bisa kau katakan menentramkan?
Cinta itu menjaga. Adikku yang
cantik, kalau ada lelaki yang mengatakan ia mencintaimu sedang ia mengajakmu
berpacaran dengannya, itu bukan cinta
sayang. Lelaki itu tak pandai menjagamu, ia justru mencelakaimu, membuat Allah
marah padamu. Sungguh, lelaki itu
bukanlah lelaki mulia, karena lelaki mulia akan memuliakanmu juga, menjaga
cintanya untukmu agar tetap suci dan utuh hingga tiba pada waktunya. Untuk adikku
yang tampan, kalau kau mencintai wanita lalu menjadikannya sebagai pacarmu,
maka-maafkanlah-aku harus mengatakan ini padamu, kau lah lelaki paling pengecut
sedunia! Kau mengaku cinta padanya, tapi kau merusak kehormatannya, mengotori
hatinya dengan sesuatu yang kau sebut cinta, membuat ibadahnya terusik karena
sesuatu yang kau sebut cinta. Pendusta!!! Itu bukan cinta. Kau hanya bernafsu
padanya.
Cinta itu menyimpannya serapih
mungkin hingga waktunya tiba-pernikahan. Cinta itu tidak mengotori hati
keduanya dengan angan-angan yang kian mengikis iman. Kau masih ingat cerita
cinta Ali dan Fatimah yang pernah kukisahkan? Ali mencintai Fatimah karena
keshalihannya, kelembutannya dan segala perangai baikknya. Tak jauh berbeda
dengan Fatimah, ia pun mencitai Ali kesayangan Rasulullah itu. Lalu, apakah hal
ini membuat keduanya lalai dan melupakan larangan Allah? Apakah hal ini
kemudian mendorong Ali untuk iseng berkunjung ke rumah Rasulullah hanya untuk
melihat Fatimah? Tidak, sayang. Cinta mereka tetap utuh terjaga hingga Allah
menakdirkan keduanya untuk hidup bersama. Hingga di hari pertama pernikahan
mereka, membuat seorang Fatimah membuat suatu
pemngakuan yang begitu mengejutkan Ali suaminya. “Maafkan aku suamiku,
aku telah mencintai seorang lelaki sebelum menikah denganmu...” Seketika kalimat
Fatimah itu menghadirkan suasana berbeda di wajah Ali. Kemudian Fatimah
melanjutkan kalimatnya, “namun sekarang aku lebih bahagia karena lelaki itu
telah menjadi suamiku.” Tidakkah kau ingin mencontoh Ali dan Fatimah, adikku
sayang?
‘tapi..cinta ini terlanjur memenjarakanku,
mbak?’ Aku teringat keluh kesahmu yang itu. Rasulullah sudah menasihatkan
sebelumnya, sayang. Cobakita simak kalimat indah berikut,
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda,
barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena
sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara
kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah
berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak
nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu
Majjah, dan Tirmidzi)
Ada benteng yang dianjurkan Rasulullah untuk menyelamatkan kita,
yups..puasa. Insya Allah puasa akan menjaga kita dari bujuk rayu syetan. Adukan
semuanya pada Dzat yang gak pernah nge pe
ha pe in kita, Allah Ta’ala. “Wahai
Rabbku.. Dzat yang berkuasa atas hatiku. Kau yang menganugerahkan cinta dalam
hatiku, hingga membuatku rela menghamba padamu. Ya Allah, saat ini aku
mengagumi ‘dia’. Aku tak ingin rasa ini melalaikanku melakukan kewajibanku
terhadapmu. Ya Allah, jika memang ‘dia’ yang terbaik untukku, kutitipkan rasa
ini pada-Mu agar tak melalaikanku, bimbinglah aku untuk menjadi yang lebih
baik. Ya Allah, tolong hapuskan rasaku kalau ‘dia’ bukan yang terbaik untukku. Aku
berlindung padamu waha Rabbi...”
Yakinlah, Allah telah
memberikan garansi kalau ‘wanita baik adalah untuk lelaki baik, lelaki baik
juga untuk wanita yang baik, dan sebaliknya (baca: an Nuur ayat 26)’.
Sudah ya bahasan
cintanya.. J sekarang kita bahas kata
kunci yang kedua-sukses. Ayo, menurut kalian sukses itu apa? Kalau menurutku
sukses itu mampu melihat kemudahan dalam setiap kesulitan. Sukses itu kalau
berhasil lari dari godaan syetan yang menyesatkan. Sukses itu kalau berhasil
bangkit setelah terjatuh. Sukses itu kalau ibu-bapak memandangku haru dan
bilang ‘terima kasih ya nak, ibu-bapak bangga padamu.’ Sukses itu kalu berhasil
bikin Bidadari langit cemburu padaku. Sukses itu kalau bisa bermanfaat untuk
orang lain. Sukses itu kalau orang lain merasakan ada yang kurang setelah
pemergianku. Terakhir, sukses itu kalau Allah sudah Redha aku menjadi salah
saatu penghuni taman Firdaus-Nya.
Nah, sekarang apa
kaitannya cinta dengan sukses? Seperti judul tulisan ini ‘Karena Cinta yang
Mensukseskanku’, maka kaitannya erat sekali antara cinta dan sukses. Kalau
Allah cinta kita, lantas membuat Allah Redha, maka setiap langkah kita akan
menjadi mudah dan sukses dunia akhirat itu gampang. Cinta Rasulullah yang
membuat syafaatnya menyelamatkan kita dari kobaran api neraka. Cinta kedua orang
tua kita yang menggetarkan pelataran langit dengan do’a-do’a yang setiap saat
beliau berdua panjatkan hingga kita mampu melewati kesulitan yang menghadang
hingga mengantarkan kita pada sukses.
Adikku sayang,
perjalanan yang harus kau tempuh masih sangat panjang. Sibukkan dirimu dengan
memperbanyak bekal. Ilmu Allah masih begitu luas, sedang yang kita miliki tak
ada seujung kukupun. Terlebih, bangsa ini masih jauh dari kata bangsa yang
maju, maka rubahlah dengan tanganmu. Banyak kesempatan di luar sana untukmu. Banyak
tempat di dunia ini yang belum kau jajaki, banyak keahlian yang belum kau
kuasai. Maka belajarlah sayang, perbanyak bekalmu. Karena hidupmu yang sekarang
menjadi penentu suksesmu di masa depan.
Jangan pernah
menyerah, milikilah mental pejuang, gigih, bertujuan dan tak kenal menyerah. Jadilah
yang Muda Mulia. Allah bersamamu, bersamaku, bersama kita, maka rasakanlah
kehadiran-Nya dalam setiap langkah juangmu.
Terakhir, izinkan
kututup kecerewetanku ini dengan kalimat sakral yang kan membakar semangatmu,
“..Sesungguhnya Allah
tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubahnya sendiri..” (ar Ra’du ayat 13)
Cerewet Tanda Sayang,
Rochmatun Ni’mah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar