Rabu, 15 April 2015

KARENA CINTA YANG MENSUKSESKANKU

Hadiah untuk adik-adikku tersayang..
Apa kabar para pejuang? Semoga Allah yang senantiasa menjadi tujuan.. ^_^
Obrolan kita malam ini yang mengharuskanku menuliskan semua ini untuk kalian, untuk kalian yang kusayangi karena Allah, untuk kalian yang senantiasa membakar semangat baruku. Sejenak, izinkanlah kakakmu yang faqir lagi dho’if mengungkapkan sayangnya pada kalian lewat serangkaian kalimat yang penuh kecerewetan ini. Hadiah untukmu sayang, semoga bermanfaat.
Iqra’bismi rabbikal ladzii khalaq..
KARENA CINTA YANG MENSUKSESKANKU
            Menengok judulnya, semoga membuat kalian tertarik untuk membaca isinya.. J ada dua kata kunci disana, yaitu ‘cinta’ dan ‘sukses’. Kita akan mengupas satu per satu, agar tidak ada dusta diantara kita..hehe.. langsung saja ya..
            Kata kunci pertama adalah ‘cinta’. Hemm..bahasan cinta memang selalu menarik bagi siapa saja, tua, muda, remaja maupun dewasa. Yang katanya hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, ada sedikit sedih dalam hati ini ketika cinta telah mengalami penyempitan makna. Penyempitan makna? Kok bisa? Iya, padahal cinta itu luas sekali kan? Ada cinta pada Allah yang membuat kita rela menghamba. Ada cinta pada Rasulullah yang membuat bibir kita selalu menyebut nama beliau seraya berharap agar bisa berdampingan dengan beliau di Surga kelak. Ada cinta ibu-bapak yang menuntut kita menjadi yang paling membanggakan bagi keduanya, dan masih banyak cinta cinta yang lainnya. Tapi sayang, ketika disebutkan kata cinta, mengapa yang terfikir justru ‘si dia’? Mengapa cinta hanya dikaitkan dengan relasi lawan jenis? Ini penyempitan makna.
            Well, karena cinta yang kalian suka adalah cinta yang berhubungan dengan ‘si dia’, kita bahas yang ini saja kalo gitu. Setuju? (udah pasti setuju kan..?) J
            Adikku sayang, cinta itu fitrah, sayang. Sudah menjadi sesuatu yang pasti kita rasakan. Akan tetapi cinta tidak lagi menjadi fitrah (suci) kalau salah dalam mengaturnya. Lalu, apa karena cinta yang kemudian membuatmu menjalin hubungan yang Allah larang (pacaran, red)? Hey, itu nafsu syetan, bukan cinta.
            Cinta itu menentramkan kita yang merasakan. Kalau dengan pacaran, yakinkah tak dirundung kegalauan yang menyesakkan? Yakinkah tak diselimuti kecemasan karena takut kehilangan ‘dia’? lalu bagian mana yang bisa kau katakan menentramkan?
            Cinta itu menjaga. Adikku yang cantik, kalau ada lelaki yang mengatakan ia mencintaimu sedang ia mengajakmu berpacaran dengannya, itu  bukan cinta sayang. Lelaki itu tak pandai menjagamu, ia justru mencelakaimu, membuat Allah marah padamu. Sungguh, lelaki itu bukanlah lelaki mulia, karena lelaki mulia akan memuliakanmu juga, menjaga cintanya untukmu agar tetap suci dan utuh hingga tiba pada waktunya. Untuk adikku yang tampan, kalau kau mencintai wanita lalu menjadikannya sebagai pacarmu, maka-maafkanlah-aku harus mengatakan ini padamu, kau lah lelaki paling pengecut sedunia! Kau mengaku cinta padanya, tapi kau merusak kehormatannya, mengotori hatinya dengan sesuatu yang kau sebut cinta, membuat ibadahnya terusik karena sesuatu yang kau sebut cinta. Pendusta!!! Itu bukan cinta. Kau hanya bernafsu padanya.
            Cinta itu menyimpannya serapih mungkin hingga waktunya tiba-pernikahan. Cinta itu tidak mengotori hati keduanya dengan angan-angan yang kian mengikis iman. Kau masih ingat cerita cinta Ali dan Fatimah yang pernah kukisahkan? Ali mencintai Fatimah karena keshalihannya, kelembutannya dan segala perangai baikknya. Tak jauh berbeda dengan Fatimah, ia pun mencitai Ali kesayangan Rasulullah itu. Lalu, apakah hal ini membuat keduanya lalai dan melupakan larangan Allah? Apakah hal ini kemudian mendorong Ali untuk iseng berkunjung ke rumah Rasulullah hanya untuk melihat Fatimah? Tidak, sayang. Cinta mereka tetap utuh terjaga hingga Allah menakdirkan keduanya untuk hidup bersama. Hingga di hari pertama pernikahan mereka, membuat seorang Fatimah membuat suatu  pemngakuan yang begitu mengejutkan Ali suaminya. “Maafkan aku suamiku, aku telah mencintai seorang lelaki sebelum menikah denganmu...” Seketika kalimat Fatimah itu menghadirkan suasana berbeda di wajah Ali. Kemudian Fatimah melanjutkan kalimatnya, “namun sekarang aku lebih bahagia karena lelaki itu telah menjadi suamiku.” Tidakkah kau ingin mencontoh Ali dan Fatimah, adikku sayang?
            ‘tapi..cinta ini terlanjur memenjarakanku, mbak?’ Aku teringat keluh kesahmu yang itu. Rasulullah sudah menasihatkan sebelumnya, sayang. Cobakita simak kalimat indah berikut,
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi)
Ada benteng yang dianjurkan Rasulullah untuk menyelamatkan kita, yups..puasa. Insya Allah puasa akan menjaga kita dari bujuk rayu syetan. Adukan semuanya pada Dzat yang gak pernah nge pe ha pe in kita, Allah Ta’ala. “Wahai Rabbku.. Dzat yang berkuasa atas hatiku. Kau yang menganugerahkan cinta dalam hatiku, hingga membuatku rela menghamba padamu. Ya Allah, saat ini aku mengagumi ‘dia’. Aku tak ingin rasa ini melalaikanku melakukan kewajibanku terhadapmu. Ya Allah, jika memang ‘dia’ yang terbaik untukku, kutitipkan rasa ini pada-Mu agar tak melalaikanku, bimbinglah aku untuk menjadi yang lebih baik. Ya Allah, tolong hapuskan rasaku kalau ‘dia’ bukan yang terbaik untukku. Aku berlindung padamu waha Rabbi...”
            Yakinlah, Allah telah memberikan garansi kalau ‘wanita baik adalah untuk lelaki baik, lelaki baik juga untuk wanita yang baik, dan sebaliknya (baca: an Nuur ayat 26)’.
            Sudah ya bahasan cintanya.. J sekarang kita bahas kata kunci yang kedua-sukses. Ayo, menurut kalian sukses itu apa? Kalau menurutku sukses itu mampu melihat kemudahan dalam setiap kesulitan. Sukses itu kalau berhasil lari dari godaan syetan yang menyesatkan. Sukses itu kalau berhasil bangkit setelah terjatuh. Sukses itu kalau ibu-bapak memandangku haru dan bilang ‘terima kasih ya nak, ibu-bapak bangga padamu.’ Sukses itu kalu berhasil bikin Bidadari langit cemburu padaku. Sukses itu kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Sukses itu kalau orang lain merasakan ada yang kurang setelah pemergianku. Terakhir, sukses itu kalau Allah sudah Redha aku menjadi salah saatu penghuni taman Firdaus-Nya.
            Nah, sekarang apa kaitannya cinta dengan sukses? Seperti judul tulisan ini ‘Karena Cinta yang Mensukseskanku’, maka kaitannya erat sekali antara cinta dan sukses. Kalau Allah cinta kita, lantas membuat Allah Redha, maka setiap langkah kita akan menjadi mudah dan sukses dunia akhirat itu gampang. Cinta Rasulullah yang membuat syafaatnya menyelamatkan kita dari kobaran api neraka. Cinta kedua orang tua kita yang menggetarkan pelataran langit dengan do’a-do’a yang setiap saat beliau berdua panjatkan hingga kita mampu melewati kesulitan yang menghadang hingga mengantarkan kita pada sukses.
            Adikku sayang, perjalanan yang harus kau tempuh masih sangat panjang. Sibukkan dirimu dengan memperbanyak bekal. Ilmu Allah masih begitu luas, sedang yang kita miliki tak ada seujung kukupun. Terlebih, bangsa ini masih jauh dari kata bangsa yang maju, maka rubahlah dengan tanganmu. Banyak kesempatan di luar sana untukmu. Banyak tempat di dunia ini yang belum kau jajaki, banyak keahlian yang belum kau kuasai. Maka belajarlah sayang, perbanyak bekalmu. Karena hidupmu yang sekarang menjadi penentu suksesmu di masa depan.
            Jangan pernah menyerah, milikilah mental pejuang, gigih, bertujuan dan tak kenal menyerah. Jadilah yang Muda Mulia. Allah bersamamu, bersamaku, bersama kita, maka rasakanlah kehadiran-Nya dalam setiap langkah juangmu.
            Terakhir, izinkan kututup kecerewetanku ini dengan kalimat sakral yang kan membakar semangatmu,
“..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubahnya sendiri..” (ar Ra’du ayat 13)

Cerewet Tanda Sayang,

Rochmatun Ni’mah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar