Kamis, 23 April 2015

Jangan Sembarang Menanti (Agar Penantianmu Penuh Berkah the Series)

Jangan Sembarang Menanti

“Jadilah muslimah yang luar biasa. Waktunya tak pernah ia habiskan dengan hal yang sia-sia. Ilmu Tuhannya selalu membuatnya dahaga. Prioritas hidupnya hanya untuk akhirat saja. Berprestasi dan berpribadi mulia. Sejarah mengabadikan kisahnya.”

Izinkanlah saya bercerita tentang seorang muslimah dengan kisah cinta yang cukup membuat kita berkata ‘subhanallah’. Kisah penantian yang dihiasi kesabaran yang luar biasa.
Sebut saja namanya Nafisa. Nafisa  membuat suatu komitmen di dalam hidupnya. “Kalau suatu saat ada lelaki shalih yang melamarku, maka aku akan menerimanya tanpa memperhatikan fisiknya, hartanya maupun latar belakang keluarganya.”
Komitmen itu, ia buat sejak ia mengetahui nasihat Rasulullah yang melarang semua ayah menolak pinangan lelaki shalih yang ingin menjadikan putrinya bidadari surganya. Bahkan Rasulullah seraya menyampaikan ancamannya: akan datang kerusakan yang lebih besar.
Dengan komitmen yang begitu hebatnya, Nafisa tak hanya duduk manis sembari menanti. Ia selalu berusaha memperbaiki kualitas diri, menjaga dari hal-hal yang Allah haramkan. Karena satu hal yang ia yakini, “wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik..”
Hingga suatu ketika seorang pemuda datang melamarnya, Rasyid. Nafisa mengenal Rasyid sejak  duduk dibangku madrasa aliyah di salah satu pesantren di Yogyakarta, Rasyid adalah sepupu dari sahabatnya. Meskipun ia sering bertemu dengan Rasyid, komunikasi selalu terjaga sebatas perlu saja. Ia mengakui tidak pernah ada rasa cinta pada lelaki ini. Pemuda biasa, bukan keturunan raja, hampir tidak ada yang istimewa jika melihatnya dengan kacamata dunia.
Nafisa menerima pinangannya. Sekali lagi bukan karena cinta. Karena shalih yang telah menjadi alasan untuk tidak menolaknya. Hanya redha Allah saja yang didamba.
Setelah pinangan di terima, kedua belah keluarga memusyawarahkan kapan baiknya menikah, meskipun keduanya sama-sama masih kuliah. Pihak keluarga Nafisa menyarankan untuk menyelesaikan kuliah kemudian menikah. Namun, keduanya ingin bersegera karena takut terjadi fitnah.
Beberapa bulan setelah itu Rasyid mendapat kabar gembira, proposal beasiswanya diterima, universitas Al Azhar Kairo. Ternyata  pemuda ini seorang hafidz qur’an (penghafal al qur’an) yang membuatnya menempuh pendidikan di universitas tertua di dunia dengan beasiswa sepenuhnya.
Pihak keluarga Nafisa tidak mengizinkan menikah dalam waktu dekat, sementara Rasyid harus segera terbang ke Kairo. Allah mengatur skenario ini begitu indah. Nafisa tetap melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta, sementara khatib (yang meminang)nya menempuh pendidikan di Kairo, Mesir.
Keduanya masih diikat dengan khitbah. Alasan ini tidak membuat keduanya bebas berkomunikasi kesana kemari. Tetap menjaga sesuai batas-batas syar’i. Dan ini bukan penantian yang mudah untuk dilalui.
Setelah dua tahun menempuh pendidikan di Al Azhar, di waktu libur panjangnya Rasyid kembali ke tanah air untuk menghalalkan wanita yang dikhitbahnya. Tidak lebih dari dua bulan waktu yang dihabiskan berdua bagi sepasang suami-istri ini, karena Rasyid harus kembali ke Kairo untuk melanjutkan masa studinya yang masih dua tahun lagi.
Nafisa ditinggal suaminya untuk melanjutkan studi dalam keadaan hamil dua minggu. Bukan hal mudah melahirkan dan membesarkan buah hatinya sementara jauh dari suami yang dicintainya. Namun, ia tetap bersabar dengan ujian cintanya.
Dua tahun kemudian setelah bulan kedua pernikahannya Allah mempertemukan kembali Nafisa dengan suaminya. Saat itu usia putri pertama mereka sudah lebih dari satu tahun.
Sekarang Allah menitipkan dua orang putri penghafal al qur’an pada pasangan penuh berkah ini. Putri pertama lima tahun usianya, hafalannya hampir tiga juz. Putri kedua usianya masih dua tahun sudah menghafal surah al Mursalat dan beberapa surah pendek di juz tiga puluh. Kabar terakhir yang saya dapatkan, Rasyid dan Nafisa akan segera merintis pesantren tahfidz qur’an di Yogyakarta. Semoga Allah memberkahi keluarga beliau.
Saudari, Nafisa mengajarkn kita untuk selalu yakin akan janji Allah. Allah seindah-indah pembuat janji. Allah tidak akan pernah ingkar.

Saudari, jika memang harus menanti, menantilah. Meski lebih kusarankan untuk bersegera. Namun, jangan sembarang menanti. Banyak hal yang harus kita lakukan. Menantilah sembari terus meningkatkan kualitas diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar