Jangan Sembarang Menanti
“Jadilah
muslimah yang luar biasa. Waktunya tak pernah ia habiskan dengan hal yang
sia-sia. Ilmu Tuhannya selalu membuatnya dahaga. Prioritas hidupnya hanya untuk
akhirat saja. Berprestasi dan berpribadi mulia. Sejarah mengabadikan kisahnya.”
Izinkanlah
saya bercerita tentang seorang muslimah dengan kisah cinta yang cukup membuat
kita berkata ‘subhanallah’. Kisah penantian yang dihiasi kesabaran yang luar
biasa.
Sebut
saja namanya Nafisa. Nafisa membuat
suatu komitmen di dalam hidupnya. “Kalau
suatu saat ada lelaki shalih yang melamarku, maka aku akan menerimanya tanpa
memperhatikan fisiknya, hartanya maupun latar belakang keluarganya.”
Komitmen
itu, ia buat sejak ia mengetahui nasihat Rasulullah yang melarang semua ayah
menolak pinangan lelaki shalih yang ingin menjadikan putrinya bidadari surganya.
Bahkan Rasulullah seraya menyampaikan ancamannya: akan datang kerusakan yang
lebih besar.
Dengan
komitmen yang begitu hebatnya, Nafisa tak hanya duduk manis sembari menanti. Ia
selalu berusaha memperbaiki kualitas diri, menjaga dari hal-hal yang Allah
haramkan. Karena satu hal yang ia yakini, “wanita
yang baik adalah untuk lelaki yang baik..”
Hingga
suatu ketika seorang pemuda datang melamarnya, Rasyid. Nafisa mengenal Rasyid
sejak duduk dibangku madrasa aliyah di
salah satu pesantren di Yogyakarta, Rasyid adalah sepupu dari sahabatnya. Meskipun
ia sering bertemu dengan Rasyid, komunikasi selalu terjaga sebatas perlu saja.
Ia mengakui tidak pernah ada rasa cinta pada lelaki ini. Pemuda biasa, bukan
keturunan raja, hampir tidak ada yang istimewa jika melihatnya dengan kacamata
dunia.
Nafisa
menerima pinangannya. Sekali lagi bukan karena cinta. Karena shalih yang telah
menjadi alasan untuk tidak menolaknya. Hanya redha Allah saja yang didamba.
Setelah
pinangan di terima, kedua belah keluarga memusyawarahkan kapan baiknya menikah,
meskipun keduanya sama-sama masih kuliah. Pihak keluarga Nafisa menyarankan
untuk menyelesaikan kuliah kemudian menikah. Namun, keduanya ingin bersegera
karena takut terjadi fitnah.
Beberapa
bulan setelah itu Rasyid mendapat kabar gembira, proposal beasiswanya diterima,
universitas Al Azhar Kairo. Ternyata pemuda
ini seorang hafidz qur’an (penghafal al qur’an) yang membuatnya menempuh
pendidikan di universitas tertua di dunia dengan beasiswa sepenuhnya.
Pihak
keluarga Nafisa tidak mengizinkan menikah dalam waktu dekat, sementara Rasyid
harus segera terbang ke Kairo. Allah mengatur skenario ini begitu indah. Nafisa
tetap melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta, sementara khatib (yang meminang)nya menempuh
pendidikan di Kairo, Mesir.
Keduanya
masih diikat dengan khitbah. Alasan ini tidak membuat keduanya bebas
berkomunikasi kesana kemari. Tetap menjaga sesuai batas-batas syar’i. Dan ini
bukan penantian yang mudah untuk dilalui.
Setelah
dua tahun menempuh pendidikan di Al Azhar, di waktu libur panjangnya Rasyid
kembali ke tanah air untuk menghalalkan wanita yang dikhitbahnya. Tidak lebih
dari dua bulan waktu yang dihabiskan berdua bagi sepasang suami-istri ini,
karena Rasyid harus kembali ke Kairo untuk melanjutkan masa studinya yang masih
dua tahun lagi.
Nafisa
ditinggal suaminya untuk melanjutkan studi dalam keadaan hamil dua minggu.
Bukan hal mudah melahirkan dan membesarkan buah hatinya sementara jauh dari
suami yang dicintainya. Namun, ia tetap bersabar dengan ujian cintanya.
Dua
tahun kemudian setelah bulan kedua pernikahannya Allah mempertemukan kembali
Nafisa dengan suaminya. Saat itu usia putri pertama mereka sudah lebih dari
satu tahun.
Sekarang
Allah menitipkan dua orang putri penghafal al qur’an pada pasangan penuh berkah
ini. Putri pertama lima tahun usianya, hafalannya hampir tiga juz. Putri kedua
usianya masih dua tahun sudah menghafal surah al Mursalat dan beberapa surah
pendek di juz tiga puluh. Kabar terakhir yang saya dapatkan, Rasyid dan Nafisa
akan segera merintis pesantren tahfidz qur’an di Yogyakarta. Semoga Allah
memberkahi keluarga beliau.
Saudari,
Nafisa mengajarkn kita untuk selalu yakin akan janji Allah. Allah seindah-indah
pembuat janji. Allah tidak akan pernah ingkar.
Saudari,
jika memang harus menanti, menantilah. Meski lebih kusarankan untuk bersegera.
Namun, jangan sembarang menanti. Banyak hal yang harus kita lakukan. Menantilah
sembari terus meningkatkan kualitas diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar