Sabtu, 25 April 2015

Berkompetisi dengan Bidadari (Agar Penantianmu Penuh Berkah the Series)

Berkompetisi dengan Bidadari

            “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,” (QS As Shaffat: 48)
            “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS Ar Rahmaan: 56)
            Jika kita telusuri lagi sifat-sifat bidadari surga yang ada di dalam al Qur’an, maka wanita dunia mana yang lebih tidak mencemburuinya? Namun, tenang saja. Ada sifat-sifat wanita dunia yang bisa kita contoh agar para bidadari surga cemburu pada kita.
            Al Imam Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadist dari Ummu Salamah, bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha berkata “Ya Rasulullah,  jelaskanlah padaku tentang firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli...”
            Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”
            Aku (Ummu Salamah) berkata lagi, “Jelaskanlah padaku Ya Rasulullah tentang firmanNya: Laksana mutiara yang tersimpan baik (QS Al Waqi’ah: 23)
            Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia...”
            Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskan padaku tentang firman Allah: Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (QS Ar Rahmaan: 70)
            Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
            Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah: seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (QS Ash Shaffat: 49)
            Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya, atau yang biasa disebut putih telur.”
            Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah jelaskan padaku firman Allah: penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 37)
            Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”
            Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?”
            Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
            Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
            Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu emndampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
            Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat alki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah diantara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
            Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa diantara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya...”
            ...Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan perg membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” (HR Ath Thabrani)

            Sudah kita dapati jawabannya bukan? Kita punya potensi dan keunggulan yang mampu berkompetisi dengan bidadari. Yups. Bidadari cantik karena memang mereka diciptakan cantik. Namun wanita dunia lebih utama dari bidadari karena shalat mereka, puasa mereka, ibadah mereka kepada Allah, dan akhlaq mereka yang patut untuk kita teladani. Sungguh. Itulah yang membuat bidadari surga cemburu pada wanita dunia.

Kamis, 23 April 2015

Jangan Sembarang Menanti (Agar Penantianmu Penuh Berkah the Series)

Jangan Sembarang Menanti

“Jadilah muslimah yang luar biasa. Waktunya tak pernah ia habiskan dengan hal yang sia-sia. Ilmu Tuhannya selalu membuatnya dahaga. Prioritas hidupnya hanya untuk akhirat saja. Berprestasi dan berpribadi mulia. Sejarah mengabadikan kisahnya.”

Izinkanlah saya bercerita tentang seorang muslimah dengan kisah cinta yang cukup membuat kita berkata ‘subhanallah’. Kisah penantian yang dihiasi kesabaran yang luar biasa.
Sebut saja namanya Nafisa. Nafisa  membuat suatu komitmen di dalam hidupnya. “Kalau suatu saat ada lelaki shalih yang melamarku, maka aku akan menerimanya tanpa memperhatikan fisiknya, hartanya maupun latar belakang keluarganya.”
Komitmen itu, ia buat sejak ia mengetahui nasihat Rasulullah yang melarang semua ayah menolak pinangan lelaki shalih yang ingin menjadikan putrinya bidadari surganya. Bahkan Rasulullah seraya menyampaikan ancamannya: akan datang kerusakan yang lebih besar.
Dengan komitmen yang begitu hebatnya, Nafisa tak hanya duduk manis sembari menanti. Ia selalu berusaha memperbaiki kualitas diri, menjaga dari hal-hal yang Allah haramkan. Karena satu hal yang ia yakini, “wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik..”
Hingga suatu ketika seorang pemuda datang melamarnya, Rasyid. Nafisa mengenal Rasyid sejak  duduk dibangku madrasa aliyah di salah satu pesantren di Yogyakarta, Rasyid adalah sepupu dari sahabatnya. Meskipun ia sering bertemu dengan Rasyid, komunikasi selalu terjaga sebatas perlu saja. Ia mengakui tidak pernah ada rasa cinta pada lelaki ini. Pemuda biasa, bukan keturunan raja, hampir tidak ada yang istimewa jika melihatnya dengan kacamata dunia.
Nafisa menerima pinangannya. Sekali lagi bukan karena cinta. Karena shalih yang telah menjadi alasan untuk tidak menolaknya. Hanya redha Allah saja yang didamba.
Setelah pinangan di terima, kedua belah keluarga memusyawarahkan kapan baiknya menikah, meskipun keduanya sama-sama masih kuliah. Pihak keluarga Nafisa menyarankan untuk menyelesaikan kuliah kemudian menikah. Namun, keduanya ingin bersegera karena takut terjadi fitnah.
Beberapa bulan setelah itu Rasyid mendapat kabar gembira, proposal beasiswanya diterima, universitas Al Azhar Kairo. Ternyata  pemuda ini seorang hafidz qur’an (penghafal al qur’an) yang membuatnya menempuh pendidikan di universitas tertua di dunia dengan beasiswa sepenuhnya.
Pihak keluarga Nafisa tidak mengizinkan menikah dalam waktu dekat, sementara Rasyid harus segera terbang ke Kairo. Allah mengatur skenario ini begitu indah. Nafisa tetap melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta, sementara khatib (yang meminang)nya menempuh pendidikan di Kairo, Mesir.
Keduanya masih diikat dengan khitbah. Alasan ini tidak membuat keduanya bebas berkomunikasi kesana kemari. Tetap menjaga sesuai batas-batas syar’i. Dan ini bukan penantian yang mudah untuk dilalui.
Setelah dua tahun menempuh pendidikan di Al Azhar, di waktu libur panjangnya Rasyid kembali ke tanah air untuk menghalalkan wanita yang dikhitbahnya. Tidak lebih dari dua bulan waktu yang dihabiskan berdua bagi sepasang suami-istri ini, karena Rasyid harus kembali ke Kairo untuk melanjutkan masa studinya yang masih dua tahun lagi.
Nafisa ditinggal suaminya untuk melanjutkan studi dalam keadaan hamil dua minggu. Bukan hal mudah melahirkan dan membesarkan buah hatinya sementara jauh dari suami yang dicintainya. Namun, ia tetap bersabar dengan ujian cintanya.
Dua tahun kemudian setelah bulan kedua pernikahannya Allah mempertemukan kembali Nafisa dengan suaminya. Saat itu usia putri pertama mereka sudah lebih dari satu tahun.
Sekarang Allah menitipkan dua orang putri penghafal al qur’an pada pasangan penuh berkah ini. Putri pertama lima tahun usianya, hafalannya hampir tiga juz. Putri kedua usianya masih dua tahun sudah menghafal surah al Mursalat dan beberapa surah pendek di juz tiga puluh. Kabar terakhir yang saya dapatkan, Rasyid dan Nafisa akan segera merintis pesantren tahfidz qur’an di Yogyakarta. Semoga Allah memberkahi keluarga beliau.
Saudari, Nafisa mengajarkn kita untuk selalu yakin akan janji Allah. Allah seindah-indah pembuat janji. Allah tidak akan pernah ingkar.

Saudari, jika memang harus menanti, menantilah. Meski lebih kusarankan untuk bersegera. Namun, jangan sembarang menanti. Banyak hal yang harus kita lakukan. Menantilah sembari terus meningkatkan kualitas diri.

Rabu, 15 April 2015

KARENA CINTA YANG MENSUKSESKANKU

Hadiah untuk adik-adikku tersayang..
Apa kabar para pejuang? Semoga Allah yang senantiasa menjadi tujuan.. ^_^
Obrolan kita malam ini yang mengharuskanku menuliskan semua ini untuk kalian, untuk kalian yang kusayangi karena Allah, untuk kalian yang senantiasa membakar semangat baruku. Sejenak, izinkanlah kakakmu yang faqir lagi dho’if mengungkapkan sayangnya pada kalian lewat serangkaian kalimat yang penuh kecerewetan ini. Hadiah untukmu sayang, semoga bermanfaat.
Iqra’bismi rabbikal ladzii khalaq..
KARENA CINTA YANG MENSUKSESKANKU
            Menengok judulnya, semoga membuat kalian tertarik untuk membaca isinya.. J ada dua kata kunci disana, yaitu ‘cinta’ dan ‘sukses’. Kita akan mengupas satu per satu, agar tidak ada dusta diantara kita..hehe.. langsung saja ya..
            Kata kunci pertama adalah ‘cinta’. Hemm..bahasan cinta memang selalu menarik bagi siapa saja, tua, muda, remaja maupun dewasa. Yang katanya hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Namun, ada sedikit sedih dalam hati ini ketika cinta telah mengalami penyempitan makna. Penyempitan makna? Kok bisa? Iya, padahal cinta itu luas sekali kan? Ada cinta pada Allah yang membuat kita rela menghamba. Ada cinta pada Rasulullah yang membuat bibir kita selalu menyebut nama beliau seraya berharap agar bisa berdampingan dengan beliau di Surga kelak. Ada cinta ibu-bapak yang menuntut kita menjadi yang paling membanggakan bagi keduanya, dan masih banyak cinta cinta yang lainnya. Tapi sayang, ketika disebutkan kata cinta, mengapa yang terfikir justru ‘si dia’? Mengapa cinta hanya dikaitkan dengan relasi lawan jenis? Ini penyempitan makna.
            Well, karena cinta yang kalian suka adalah cinta yang berhubungan dengan ‘si dia’, kita bahas yang ini saja kalo gitu. Setuju? (udah pasti setuju kan..?) J
            Adikku sayang, cinta itu fitrah, sayang. Sudah menjadi sesuatu yang pasti kita rasakan. Akan tetapi cinta tidak lagi menjadi fitrah (suci) kalau salah dalam mengaturnya. Lalu, apa karena cinta yang kemudian membuatmu menjalin hubungan yang Allah larang (pacaran, red)? Hey, itu nafsu syetan, bukan cinta.
            Cinta itu menentramkan kita yang merasakan. Kalau dengan pacaran, yakinkah tak dirundung kegalauan yang menyesakkan? Yakinkah tak diselimuti kecemasan karena takut kehilangan ‘dia’? lalu bagian mana yang bisa kau katakan menentramkan?
            Cinta itu menjaga. Adikku yang cantik, kalau ada lelaki yang mengatakan ia mencintaimu sedang ia mengajakmu berpacaran dengannya, itu  bukan cinta sayang. Lelaki itu tak pandai menjagamu, ia justru mencelakaimu, membuat Allah marah padamu. Sungguh, lelaki itu bukanlah lelaki mulia, karena lelaki mulia akan memuliakanmu juga, menjaga cintanya untukmu agar tetap suci dan utuh hingga tiba pada waktunya. Untuk adikku yang tampan, kalau kau mencintai wanita lalu menjadikannya sebagai pacarmu, maka-maafkanlah-aku harus mengatakan ini padamu, kau lah lelaki paling pengecut sedunia! Kau mengaku cinta padanya, tapi kau merusak kehormatannya, mengotori hatinya dengan sesuatu yang kau sebut cinta, membuat ibadahnya terusik karena sesuatu yang kau sebut cinta. Pendusta!!! Itu bukan cinta. Kau hanya bernafsu padanya.
            Cinta itu menyimpannya serapih mungkin hingga waktunya tiba-pernikahan. Cinta itu tidak mengotori hati keduanya dengan angan-angan yang kian mengikis iman. Kau masih ingat cerita cinta Ali dan Fatimah yang pernah kukisahkan? Ali mencintai Fatimah karena keshalihannya, kelembutannya dan segala perangai baikknya. Tak jauh berbeda dengan Fatimah, ia pun mencitai Ali kesayangan Rasulullah itu. Lalu, apakah hal ini membuat keduanya lalai dan melupakan larangan Allah? Apakah hal ini kemudian mendorong Ali untuk iseng berkunjung ke rumah Rasulullah hanya untuk melihat Fatimah? Tidak, sayang. Cinta mereka tetap utuh terjaga hingga Allah menakdirkan keduanya untuk hidup bersama. Hingga di hari pertama pernikahan mereka, membuat seorang Fatimah membuat suatu  pemngakuan yang begitu mengejutkan Ali suaminya. “Maafkan aku suamiku, aku telah mencintai seorang lelaki sebelum menikah denganmu...” Seketika kalimat Fatimah itu menghadirkan suasana berbeda di wajah Ali. Kemudian Fatimah melanjutkan kalimatnya, “namun sekarang aku lebih bahagia karena lelaki itu telah menjadi suamiku.” Tidakkah kau ingin mencontoh Ali dan Fatimah, adikku sayang?
            ‘tapi..cinta ini terlanjur memenjarakanku, mbak?’ Aku teringat keluh kesahmu yang itu. Rasulullah sudah menasihatkan sebelumnya, sayang. Cobakita simak kalimat indah berikut,
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi)
Ada benteng yang dianjurkan Rasulullah untuk menyelamatkan kita, yups..puasa. Insya Allah puasa akan menjaga kita dari bujuk rayu syetan. Adukan semuanya pada Dzat yang gak pernah nge pe ha pe in kita, Allah Ta’ala. “Wahai Rabbku.. Dzat yang berkuasa atas hatiku. Kau yang menganugerahkan cinta dalam hatiku, hingga membuatku rela menghamba padamu. Ya Allah, saat ini aku mengagumi ‘dia’. Aku tak ingin rasa ini melalaikanku melakukan kewajibanku terhadapmu. Ya Allah, jika memang ‘dia’ yang terbaik untukku, kutitipkan rasa ini pada-Mu agar tak melalaikanku, bimbinglah aku untuk menjadi yang lebih baik. Ya Allah, tolong hapuskan rasaku kalau ‘dia’ bukan yang terbaik untukku. Aku berlindung padamu waha Rabbi...”
            Yakinlah, Allah telah memberikan garansi kalau ‘wanita baik adalah untuk lelaki baik, lelaki baik juga untuk wanita yang baik, dan sebaliknya (baca: an Nuur ayat 26)’.
            Sudah ya bahasan cintanya.. J sekarang kita bahas kata kunci yang kedua-sukses. Ayo, menurut kalian sukses itu apa? Kalau menurutku sukses itu mampu melihat kemudahan dalam setiap kesulitan. Sukses itu kalau berhasil lari dari godaan syetan yang menyesatkan. Sukses itu kalau berhasil bangkit setelah terjatuh. Sukses itu kalau ibu-bapak memandangku haru dan bilang ‘terima kasih ya nak, ibu-bapak bangga padamu.’ Sukses itu kalu berhasil bikin Bidadari langit cemburu padaku. Sukses itu kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Sukses itu kalau orang lain merasakan ada yang kurang setelah pemergianku. Terakhir, sukses itu kalau Allah sudah Redha aku menjadi salah saatu penghuni taman Firdaus-Nya.
            Nah, sekarang apa kaitannya cinta dengan sukses? Seperti judul tulisan ini ‘Karena Cinta yang Mensukseskanku’, maka kaitannya erat sekali antara cinta dan sukses. Kalau Allah cinta kita, lantas membuat Allah Redha, maka setiap langkah kita akan menjadi mudah dan sukses dunia akhirat itu gampang. Cinta Rasulullah yang membuat syafaatnya menyelamatkan kita dari kobaran api neraka. Cinta kedua orang tua kita yang menggetarkan pelataran langit dengan do’a-do’a yang setiap saat beliau berdua panjatkan hingga kita mampu melewati kesulitan yang menghadang hingga mengantarkan kita pada sukses.
            Adikku sayang, perjalanan yang harus kau tempuh masih sangat panjang. Sibukkan dirimu dengan memperbanyak bekal. Ilmu Allah masih begitu luas, sedang yang kita miliki tak ada seujung kukupun. Terlebih, bangsa ini masih jauh dari kata bangsa yang maju, maka rubahlah dengan tanganmu. Banyak kesempatan di luar sana untukmu. Banyak tempat di dunia ini yang belum kau jajaki, banyak keahlian yang belum kau kuasai. Maka belajarlah sayang, perbanyak bekalmu. Karena hidupmu yang sekarang menjadi penentu suksesmu di masa depan.
            Jangan pernah menyerah, milikilah mental pejuang, gigih, bertujuan dan tak kenal menyerah. Jadilah yang Muda Mulia. Allah bersamamu, bersamaku, bersama kita, maka rasakanlah kehadiran-Nya dalam setiap langkah juangmu.
            Terakhir, izinkan kututup kecerewetanku ini dengan kalimat sakral yang kan membakar semangatmu,
“..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubahnya sendiri..” (ar Ra’du ayat 13)

Cerewet Tanda Sayang,

Rochmatun Ni’mah