Sayank,, pacaran yang HALAL aja
yuukk...!! ^_^
Bismillahirrahmanirrahiim...
Tema kali ini
sedikit ‘wow’ temen-temen, tapi gak perlu koprol juga sih (hehehe..). Eitss
tunggu dulu, jangan ada imajinasi yang aneh-aneh dulu ya. Baca dulu sekhusyuk
mungkin. Ane akan mengangkat hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut
untuk diperbincangkan, semua akan dikupas secara tajam, setajam silet! (sambil
gaya plus mata melotot ala presenter
alay.. :D)
Oke deh langsung
aja, daripada kelamaan ntar kalian makin tersepona.
Sebelumnya kita definisikan dulu deh pacaran itu makanan apa, jangan-jangan ada yang tidak tau teorema tentang
pacaran, xixixi.. Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di
kalangan kawula muda (eh, jangan salah yang tua juga ada lho yang budayakan
pacaran, ABG tua kalee..). Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh
kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga
terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga
percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk
bertukar cerita dan berbagi rasa. Acara tivi lagi deh yang berperan. Aduuh
zaman sekarang, tivi tidak hanya sekedar tontonan, tapi jadi tuntunan juga. Naudzubillah! Sejauh ini tampaknya belum
ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan
ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita TANPA NIKAH!
Ane mau nanya
dulu nih. Keuntungan yang temen-temen dapat dari pacaran apa sih? //Ada yang
merhatiin, ada yang ngingetin makan, sholat, ada yang nganterin kemana-mana
(tuh pacar ape sopir?!), sholat jama’ah bareng, kemana-mana berdua, ngerjain
tugas ada yang bantuin (lumayan ada guru les gratis), ke kantin bareng (enak
kalo pas lagi bokek), kalo pas pacarnya sekelas duduknya deketan, banyaak dehh.
Pokoknya bareng terus, ampe’ kadang lupa tidurpun
bareng juga// Astaghfirullah! Itu kah
yang disebut keuntungan? Itu mudharat namanya, kalian juga belum halal, maka
itu maksiat juga. Siapa sih yang paling diuntungkan dengan kemaksiatan? Hanya
Syetan merasa mendapat keuntungan disela kemaksiatan!
“Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan,
karena zina itu adalah perbuatan yang keji…”
(QS. Al-Isra : 32).
Kenapa coba
perintahnya JANGAN MENDEKATI ZINA? Kenapa bukan jangan melakukan Zina? Karena
biasanya orang yang berzina itu tidak tiba-tiba langsung berzina, tetapi melalui
tahapan-tahapan seperti: saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian baru
berbuat zina yang terkutuk itu. Dan pacaran ini bukan hanya sekedar mendekati
zina, melainkan jalan menuju zina. Jadi disini jelas pacaran itu HARAM!
Nabi Muhammad
SAW bersabda: “lebih baik memegang besi
yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau
ia tahu akan berat siksaannya).” Dalam hadits yang lain: “Barangsiapa yang minum (minuman keras) atau
berzina, maka Allah akan melepas imannya dalam hatinya, seperti seseorang
melepaskan peci dari kepalanya (artinya kalau yang sedang berzina itu meninggal
ketika berzina, ia tidak sempat lagi bertobat, maka dia meninggal sebagai orang
kafir yang akan kekal di neraka).”
Nah masih juga tergoda
untuk mendekati atau memilih jalan menuju zina (baca: pacaran), coba bayangkan
kalau kita meninggal ketika itu, bagaimana nasib kita? “Tiada dosa yang lebih besar setelah syirik kepada Allah daripada
meneteskan air mani dalam suatu tempat (kehormatan) yang tidak halal baginya.
Neraka Jahannam mempunyai “Tujuh pintu gerbang” (QS. Al-Hijr : 44).
Hemm, begini
haram, begitu haram. Ya udah kalo gitu pacaran yang islami aja/ Lho, sebentar,
pacaran yang islami bagaimana nih yang dimaksudkan?/ Ya, yang islami, gak pakek
deh pegang-pegangan tangan, berdua-duaan, apalagi ciuman. Ntar aktivitas
pacarannya berangkat kajian bareng, sholat jama’ah bareng di mesjid, trus
nonton konser Maher Zein bareng, mojok di belakang mesjid buat bahas buku-buku
islami/ Haahh aapphaa??? (muka diclose
up, ekspresi wajah kaget ala sinetron lebay). Tolong ya, jangan bawa-bawa
label ISLAMI demi kelancaran aksi kemaksiatan! Islam kita terlalu berharga jika
harus dicantumkan dibelakang kata ‘pacaran’!
Jadi begini ya
temen-temenku yang cantik-cantik dan yang ganteng-ganteng. Tidak ada tuh
istilah pacaran islami. Yang namanya haram ya tetep aja haram. Gak usah deh
pake repot-repot dibumbuhi pake islam segala. Coba deh bayangin, kalo ada
pacaran islami, berarti ada juga dong makan babi dengan cara islami (baca do’a
dan shalawat dulu), mabuk-mabukan islami (mabuknya di acara pengajian), judi
islami (judinya di dalam masjid). Hadew, ada-ada aja, kreatif banget kalo mau
ngeles.
Trus gimana
dong? katanya cinta itu fitrah. Rasulullah SAW juga bersabda “Man laa yarkham laa yurkham (Barang
siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi)” (HR. Bukhari-Muslim).
Ciaah ngeles lagi, pakek dalil nih critanya, oke. Begini, memang cinta itu
fitrah, dan cinta itu dapat muncul karena Allah memang menganugrahi kita
potensi tersebut sama antara manusia yang satu dengan yang lain. Cinta ini pada
dasarnya suci, tapi menjadi tidak suci lagi ketika pengelolaannya sudah
terbumbuhi dengan kemaksiatan yang mengundang murka Allah. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi
muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah.
Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan
memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka
hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan
gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim,
Ibnu Majjah, dan Tirmidzi). Nah, adakah perintah Rasulullah untuk mengindahkan
pacaran?
Lha
trus, kalo mau nikah tanpa pacaran gimana caranya? Gak kenal dengan calon
suami/istri kita dong? trus gimana bisa tau baik/tidaknya sifat si calon?
Yang
perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia
ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari
jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)"
(An-Nuur: 26). Jadi kesimpulannya kalo mau
dapet suami/istri yang sholeh/sholehah, sholehkan diri sendiri dulu!
Jangan ngarep deh dapet yang baik-baik, kalo belom bisa jadi baik (hehe..).
Gampang kok kalo mau pacaran tapi gak maksiat, asalkan pacarannya SETELAH
NIKAH. Sayank, pacaran yang HALAL aja yuk!! (ini ciyuuzz lho.. mi Allah dah...)
_Rochmatun Ni'mah_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar